Kamis, 24 Januari 2013

Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat


Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat

Pengertian Pelapisan Sosial
Pengertian pelapisan sosial menurut para ahli :
1.Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup teratur.
2. Stratifikasi sosial menurut Drs. Robert M.Z. Lawang adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
3. Stratifikasi sosial menurut Max Weber adalah stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise.
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).

Terjadinya Pelapisan Sosial
Terjadinya Pelapisan Sosial terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Terjadi dengan Sendirinya
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. Oleh karena itu sifat yang tanpa disengaja inilah yang membentuk lapisan dan dasar dari pada pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu, dan kebudayaan masyarakat dimana sistem itu berlaku.

2. Terjadi dengan Sengaja
Sistem pelapisan ini dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Dalam sistem ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang.

Didalam sistem organisasi yang disusun dengan cara sengaja, mengandung 2 sistem, yaitu:

·         Sistem Fungsional, merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat.

·         Sistem Skalar, merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah keatas (vertikal).




Perbedaan Sistem Pelapisan Pada Masyarakat
Masyarakat terbentuk dari individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang, yang  tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok social.

Ada beberapa pendapat menurut para ahli mengenai stratifikasi sosial diantaranya menurut Pitirin A. Sorikin bahwa “Pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat”.

Theodorson berpendapat bahwa “Pelapisan masyarakat adalah jenjang status dan peranan yang relative permanen yang terdapat dalam sistem sosial didalam hal perbedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan”.

Masyarakat yang berstratifikasi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida, dimana lapiasan bawah adalah paling lebar dan lapisan ini menyempit keatas. Pembagian dan pemberian kedudukan yang berhubungan dengan jenis kelamin nampaknya menjadi dasar dari seluruh sistem sosial masyarakat kuno.

Didalam organisasi pada masyarakat primitif dimana belum mengenai tulisan, pelapisan masyarakat itu sudah ada. Hal itu terwujud berbagai bentuk sebagai berikut:
1. Adanya kelompok berdasarkan jenis kelamin dan umur dengan pembedaan-pembedaan hak dan kewajiban
2. Adanya kelompok-kelompok pemimpin suku yang berpengaruh dan memiliki hak-hak istimewa
3. Adanya pemimpin yang saling berpengaruh
4. Adanya orang-orang yang dikecilkan diluar kasta dan orang yang diluar perlindungan hukum
5. Adanya pembagian kerja di dalam suku itu sendiri
6. Adanya pembedaan standar ekonomi dan didalam ketidaksamaan ekonomi itu secara umum

Teori Tentang Pelapisan Sosial
Pelapisan masyarakat dibagi menjadi beberapa kelas :
• Kelas atas (upper class)
• Kelas bawah (lower class)
• Kelas menengah (middle class)
• Kelas menengah ke bawah (lower middle class)

Beberapa teori tentang pelapisan masyarakat menurut para ahli :
1. Aristoteles mengatakan bahwa didalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya.

2. Prof. Dr. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi SH. MA. menyatakan bahwa selama di dalam masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai olehnya dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai.
3. Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu yaitu golongan Elite dan golongan Non Elite. Menurut dia pangkal dari pada perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda.

4. Gaotano Mosoa dalam “The Ruling Class” menyatakan bahwa di dalam seluruh masyarakat dari masyarakat yang kurang berkembang, sampai kepada masyarakat yang paling maju dan penuh kekuasaan dua kelas selalu muncul ialah kelas pertama (jumlahnya selalu sedikit) dan kelas kedua (jumlahnya lebih banyak).

5. Karl Mark menjelaskan terdapat dua macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan jika masyarakat terbagi menjadi ukuran-ukuran pelapisan sosial, yaitu :
 
1. Ukuran kekayaan
2. Ukuran kekuasaan
3. Ukuran kehormatan
4. Ukuran ilmu pengetahuan

Kesamaan Derajat dan Persamaan Hak
Kesamaan derajat pada setiap warga Negara sudah tercantum pada UUD 1945 dalam pasal :
1. Pasal 27
• ayat 1, berisi mengenai kewajiban dasar dan hak asasi yang dimiliki warga negara yaitu menjunjung tinggi hukum dan pemenrintahan
• ayat 2, berisi mengenai hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan

2. Pasal 28, ditetapkan bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul, menyampaikan pikiran lisan dan tulisan.

3. Pasal 29 ayat 2, kebebasan memeluk agama bagi penduduk yang dijamin oleh Negara

4. Pasal 31 ayat 1 dan 2, yang mengatur hak asasi mengenai pengajaran.

Elite dan Massa
Dalam pengertian umum elite menunjukkan sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih khusus lagi elite adalah sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.

Dalam cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan : “ Posisi di dalam masyarakat di puncak struktur struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan, aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas.”

Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitnya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitif.
Di dalam suatu pelapisan masyarakat tentu ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci atau mereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai kehijaksanaan. Mereka itu mungkin para pejabat tugas, ulama, guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunanan lainnya lagi. Para pemuka pendapat (opinion leader) inilah pada umumnya memegang fungsi strategi kunci dan memiliki status tersendiri yang akhirnya merupakan elite masyarakatnya sendiri.

Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spotnan, yang dalam beberapa hal menyerupai tetapi yang secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain. Massa diwakili oleh orang-orang yang berperanserta dalam perilaku missal seperti mereka yang terbangkitkan minatnya oleh beberapa peristiwa nasional, mereka yang menyebar di berbagai tempat, mereka yang tertarik pada suatu peristiwa pembunuhan sebagai diberitakan dalam pers atau mereka yang berperan serta dalam suatu migrasi dalam arti luas.

Ciri-ciri massa, yaitu :
1. Keanggotaannya berasal dari semua lapisan masyarakat atau strata sosial, meliputi orang-orang dari berbagai posisi kelas yang berbeda, dari jabatan kecakapan, tigngkat kemakmuran atau kebudayaan yang berbeda-beda. Orang bisa mengenali mereka sebagai massa misalnya orang-orang yang sedang mengikuti peradilan tentang pembunuhan misalnya malalui pers.

2. Massa merupakan kelompok yang anonim, lebih tepat, dan tersusun dari individu-individu anonym lainya.

3. Sedikit interaksi atau bertukar pengalaman antar anggota-anggotanya.

Pemuda dan Sosialisasi


Pemuda dan Sosialisasi

Internalisasi Belajar dan Spesialisasi
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus menerus.

Sosialisasi adalah proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai sosial, sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berprilaku  sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya.

Masa muda adalah masa transisi dan secara psikologis sangat problematis, masa ini memungkinkan pemuda melakukan tindakan tanpa norma dan hokum saat bersosialisasi. Dalam keadaan demikian, seringkli muncul perilaku menyimpang atau cendrung melakukan pelanggaran.
Dalam proses bersoialisasi terdapat tahap-tahap yang diperlukan, yaitu :
1.         Masa anak-anak. Sejak lahir, seorang anak (terutama balita) hidupnya sangat bergantung pada perlindungan orang tua dan saudara-saudara dekat dilingkungan keluarga. Ia belajar menirukan apa yang akan dikerjakan orang tuanya, mulai dari belajar makan, belajar berbicara, belajar bertindak, dan berprilaku. Proses inilah yang disebut bersosialisasi tahap anak-anak.
2.         Masa remaja. Tahap ini merupakan tahap lanjutan dari tahap anak-anak. Seorang remaja tidak hanya meniru seseorang yang diidolakannya, tetapi sudah mengidentikan dirinya, seolah-olah ia sudah mengidentikan dirinya dengan idolanya. Misalnya, remaja yang mengidolakan seorang bintang film, akan berupaya sedemikian rupa mengidentikan dirinya dengan bintang pujaannya itu. Proses ini disebut bersosialisasi tahap remaja.
3.         Masa dewasa. Pada tahap ini merupakan titk kulminasi yang paling optimal bagi seorang individu. Proses belajar tidak semata-mata meniru, tetapi lebih kepada piola penyesuaiaan diri.
Pemuda dan identitas
Pemuda merupakan suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus menerus.
Lebih menarik lagi pada generasi ini mempunyai permasalahan yang sangat bervariasi, di mana jika permasalahan ini tidak dapat diatasi secara proporsional maka pemuda akan kehilangan fungsinya sebagai penerus pembangunan.
A.Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam keputusan Menteri Pendidikan
l) Landasan idiil
2) Landasan konstitusional
3) Landasan strategis
4) Landasan historis
5) Landasan normative
Yang dimaksud. Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda disusun
berlandaskan :
-Pancasila
-Undang-Undang Dasar 1945
-Garis-garis Besar Haluan Negara
-Sumpah Pemuda Tahun 1928
-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan
-Etika, tata nilai dan tradisi luhur yang hidup dalam masyarakat.
Motivasi dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional, seperti telah terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV.

Dalam hal ini Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda menyangkut
dua pengertian pokok, yaitu :

a) Generasi muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal-bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam keterlibatannya secara fungsional bersama potensi lainnya, guna men yelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta
pembangunan nasional.
b) Generasi muda sebagai obyek pembinaan dan pengembangan ialah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi dan kemampuan-kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.

B. Masalah dan Potensi Generasi Muda
1) Permasalahan Generasi Muda.

Berbagai permasalahan generasi muda yang muneul pada saat ini antara
lain :
a) Dirasa menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme dikalangan masyarakat termasuk generasi muda.

b) Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.

c) Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal. Tingginya jumlah putus sekolah yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan seluruh
bangsa.

d) Kurangnya lapangan kerja/kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguranlsetengah pengangguran di kalangan generasi muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat
menimbulkan berbagai problem sosial lainnya.

e) Kurangnya gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi perkemrangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di kalangan generasi muda, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kurangtlya perhatian tentang gizi dan menu makanan seimbang di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.

f) Masih banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di kalangan masyarakat daerah pedesaan.

g) Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.

h) Meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkotika.

2) Potensi-potensi Generasi Muda/Pemuda
Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda perlu dikembangkan
adalah :

a) Idealisme dan daya kritis. Secara sosiologis generasi muda belum mapan datam tatanan yang ada, maka ia dapat melihat kekurangan-kekurangan dalam tatanan dan secara
wajar mampu mencari gagasan baru. Pengejawantahan idealisme dan daya kritis perlu untuk senantiasa dilengkapi dengan landasan rasa tanggung jawab yang seimbang.

b) Dinamika dan kreatifitas. Adanya idealisme pada generasi muda, maka generasi muda memiliki potensi kedinamisan dan kreatifitas yakni kemampuan dan kesediaan untuk
mengadakan perubahan, pembaharuan dan penyempurnaan kekurangankekurangan
yang ada atau pun mengemukakan gagasan-gagasan/alternative yang baru sarna sekali.

c) Keberanian mengambil resiko. Perubahan dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset, terhambat atau gagal. Namun mengambil resiko itu adalah
perlu jika kemajuan ingin diperoleh. Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko, kesiapan pengetahuan, perhitungan dan keterampilan dari generasi
muda akan memberi kualitas yang baik kepada keberanian mengambil
resiko.

d) Optimis dan kegairahan semangat. Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda akan merupakan
daya pendorong untuk mencoba maju lagi.

e) Sikap kemandirian dan disiplin murni. Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi dengan kesadaran
disiplin murni pada dirinya, agar dengan demikian mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.

f) Terdidik. Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kuantitatif maupun dalam arti kualitatif generasi muda secara relatif lebih terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi-generasi pendahulunya.

g) Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan. Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat merupakan hambatan jika hal itu dihayati secara sempit dan ekslusif. Tapi keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat merupakan potensi dinamis dan kreatif jika keanekaragaman itu ditempatkan dalam rangka integrasi nasional yang didasarkan (,ltas semangat dan jiwa Sumpah
Pemuda tahun 1928 serta kesamaan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga dengan demikian merupakan sumber yang kaya untuk kemajuanbangsa itu sendiri. Untuk itu generasi muda perlu didorong untuk menampilkan potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta
bertanggung jawab dalam menunjang pembangunan nasional.

h) Patriotisme dan nasionalisme. Pemupukan rasa kebanggaan. kecintaan dan turut serta memiliki bangsa dan negara di kalangan generasi muda perlu lebih digalakkan. pada
gilirannya akan mempertebal semangat pengabdian dan kesiapannya untuk membela dan mempertahankan bangsa dan negara dari segala bentuk ancaman. Dengan tekad dan semangat ini generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.

i) Sikap kesatria. Kemurnian idealisme. keberanian. semangat pengabdian dan pengorbanan
serta rasa tanggung jawab sosial yang tinggi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria di kalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bagi masyarakat dan bangsa.

j) Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi. Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator dan dinamisator terhadap lingkungannya yang lebih terbelakang dalam ilmu dan pendidikan serta penerapan teknologi. baik yang maju, madya maupun yang sederhana. Sosialisasi adalah proses yang membatu individu melalui belajar dan
penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Proses sosia lisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Bagi anak-anak yang masih keci!, situasi sekelilingnya adalah keluarga
sendiri. Gambaran diri mereka merupakan pantulan perhatian yang diberikan
keluarga kepada mereka.




Rabu, 16 Januari 2013

Individu, Keluarga, dan Masyarakat



Individu, Keluarga, dan Masyarakat

Pengetian Individu
“Individu” berasal dari katalatin, “individuum” artinya “yang tak terbagi”. Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang tak terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dengan demikian sering digunakan sebutan “orang-seorang” atau “manusia perseorangan”.

Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Individu mempunyai 3 aspek melekat pada dirinya, yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial kebersamaan. Ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi, kegoncangan pada satu aspek akan membawa akibat pada aspek lainnya.
Individu dalam bertingkah laku menurut pola pribadinya ada tiga kemungkinan: menyimpang dari norma kolektif kehilangan individualitas atau takluk terhadap kolektif, dan mempengaruhi masyarakat seperti adanya tokoh pahlawan atau pengacau. Mencari titik optimum antara dua pola tingkah laku (sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat) dalam situasi yang senantiasa, memberi konotasi “matang” atau “dewasa” dalam konteks sosial. Sebelum “baik” atau “tidak baik” pengaruh individu terhadap masyarakat adalah relative.

Pertumbuhan adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat mula-mula yang asosial atau juga sosial kemudian tahap demi tahap disosialisasikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan :

1.         Faktor makanan. Asupan nutrisi dan kandungan gizi dari setiap makanan yang di makan masing masing individu berbeda beda. Gizi yang baik akan membuat manusia tumbuh dengan baik, sebaliknya, gizi yang kurang baik membuat pertumbuhan manusia.
2.         Faktor kondisi psikologis setiap individu. Kondisi psikologis dapat mempengaruhi perkembangan manusia. Jika kondisi psikologisnya baik, maka akan tumbuh menjadi individu yang kuat. 
3.         Faktor lingkungan. Lingkungan yang baik membuat tumbuh kembang manusia ikut baik pula, baik tumbuh kembang fisik maupun jiwa. Begitupun sebaliknya, jika kondisi lingkungan kurang baik, maka bisa dipastikan bahwa pertumbuhan dan perkembangan seseorang akan terganggu.
4.         Faktor biologis. Faktor biologis turut berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia. Jika seseorang berasal dari keturunan dengan sel genetika yang baik, maka dia akan ikut jadi baik pertumbuhannya, dan jika gen parentalnya tidak baik, tentu ada sesuatu hal dalam keturunannya yang terganggu.

Pengertian keluarga
Keluarga (bahasa Sanskerta : "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota") adalah lingkungan
 yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.Keluarga sebagai kelompok sosial
terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung j
awab di antara individu tersebut.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Pengertian Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga itu.
Macam-Macam Fungsi Keluarga
a) Fungsi Biologis
b) Fungsi Pemeliharaan :
- Gangguan udara dengan berusaha menyediakan rumah
- Gangguan penyakit dengan berusaha menyediakan obat-obatan
- Gangguan bahaya dengan berusaha menyediakan senjata, pagar tembok dan lain-lain.
c) Fungsi Ekonomi, denan menyediakan:
- Kebutuhan makan dan minum
- Kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya
- Kebutuhan tempat tinggal
d) Fungsi Keagamaan
e) Fungsi Sosial
Pengertian Masyarakat
Menurut R. Linton, masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama sehingga, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu. Masyarakat harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
a) Harus ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang.
b) Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama dalam suatu daerah tertentu.
c) Adanya aturan- aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.
Kurang lebih 81,2 % dari wilayah Indonesia bertempat tinggal di desa. Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Unsur-unsur desa:
a) Daerah
b) Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.
c) Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jdi, menyangkut seluk beluk kehidupan masyarakat desa (rural society).
Faktor lingkungan geografis memberi pengaruh juga terhadap kegotongroyongan masyarakat desa:
a) Faktor topografi setempat yang memberikan suatu ajang hidup dan suatu bentuk adaptasi kepada penduduk.
b) Faktor iklim yang dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap penduduk terutama petani-petaninya.
c) Faktor bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir dan sebagainya yang harus dihadapi dan dialami bersama.
Jadi, persamaan nasib dan pengalaman menimbulkanhubungan sosial yang lebih akrab. Fungsi desa:
a) Sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok ke kota.
b) Sebagai lumbang bahan mentah dan tenaga kerja yang tidak kecil artinya, jika dilihat dari sudut potensi ekonomi.
c) Dari segi kegiatan kerja, berfungsi sebagai desa agraris, manufaktur, industri, dan desa nelayan.
Masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a) Homogenitas Sosial, adalah terdiri dari satu atau beberapa kekerabatan saja, sehingga pola hidup tingkah laku maupun kebudayaan sama/homogen.
b) Hubungan Primer, dimana hubungan kekeluargaan dilakukan secara musyawarah.
c) Kontrol Sosial yang Ketat, dimana hubungan pada masyarakat pedesaan sangat intim dan diutamakan, sehingga setiap anggota masyarakatnya saling mengetahui masalahyang dihadapi anggota lainnya.
d) Gotong Royong, dimana semua masalah kehidupan dilaksanakan secara gotong royong, baik dalam arti gotong royong murni maupun gotong royong timbal balik.
e) Ikatan Sosial, dimana setiap anggota masyarakat desa diikat dengan nilai-nilai adat dan kebudayaan secara ketat.
f) Magis Religius, dimana kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat desa sangat mendalam.
g) Pola Kehidupan, dimana masyarakat desa bermata pencaharian di bidang agraris, baik pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.


Jumat, 09 November 2012

Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan


Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan

Tabel pertumbuhan populasi penduduk didunia



Sumber ;  Iskandar N, Doews Sampurno Masalah Pertambahan Penduduk didunia.
Tabel 10 Negara dengan populasi penduduk terbanyak









 Bertambah cepatnya penggandaan penduduk (double population) dapat dilihat pada tabel berikut :
Penggandaan Penduduk Dunia





Sumber : Ehrlich, Paul, R, et al, Human Ecology W.H. Freeman and Co San franscisco.
Penambahan/pertambahan penduduk di suatu daerah atau negara pada dasarnya dipengaruhi oleh fakor-faktor berikut :
1. Kematian (Mornalitas)
2. Kelahiran (Fertilitas)
3. Migrasi
Ketiga faktor tersebut diukur dengan tingkat/rate, yaitu kejadian dari peristiwa yang menytukan dalam bentuk pebandingan yang biasanya tiap 100 penduduk
1. Kematian
Terdapat beberapa tingkat kematian, namun di sini hanya dua tingkat kematian saja yaitu :
a. Tingkat Kematian Kasar (Crude Death Rate/CDR)
Tingkat kematian kasar adalah banyaknya orang yang meninggal ada suatu tahun per jumlah penduduk pertengahan tahun tersebut.Secara dinyatakan tiap 1000 orang dengan rumus sebagai berikut :
D= Jumlah kematian
http://nothend000.files.wordpress.com/2010/10/gseyy.jpg?w=300&h=136
1. Pm=1/2 (P1 + P2)
2. Pm=P1 + (P1 – P2)/2
3. Pm=P2 – (P1 – P2)/2
Pm= jumlah penduduk pertengahan tahun
P1= jumlah penduduk pada awal tahun
P2= jumlah penduduk pada akhir tahun
Pada negara maju (developed countries) angka tingkat kematian kasar lebih rendah dari pada negara berkembang.
b. Tingkat Kematian khusus (Age Specific Death Rate)
Tingkat kematian ini lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, dan pekerjaan. Contoh kemungkinan mati lebih besar terjadi pada usia 85 tahun daripada usia 25 tahun. Laki-laki yang berada di medan perang lebih besar kemungkinan untuk mati daripada istri mereka yang berada di rumah. Dan karena perbedaan resiko kematian tersebut, ,aka digunakan tingkat kematian ini dengan rumus sebagai berikut :
2. Fertilitas (Kelahiran hidup)
Pengukuran fertilitas tidak sesederhana seperti pengukuran mortalitas, hal ini disebabkan adanya alasan berikut :
1. Sulit memperloeh angka statistik lahir hidup karena banyak bayi-bayi yang meninggal beberapa saat setelah kelahiran, tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran atau kematian dan sering dicatatkan lahir mati.
2. Wanita mempunyai kemungkinan melahirkan dari seorang anak (tetapi meninggal hanya sekali).
3. Makin tua umur wanita tidaklah berarti, bahwa kemungkinan mempunyai anak makin menurun.
4. Di dalam pengukuran fertilitas akan melibatkan satu orang saja. Tidak semua wanita memiliki kemungkinan untuk melakukan.
Ada istilah asing yang kedua-duanya diartikan sebagai kesuburan.
a. Faculdity (kesuburan)
Lebih diartikan sebagai kemampuan biologis wanita untuk mempunyai anak.
b.Fertility (fertilitas) yaitu jumlah kelahiran hidup dari seorang atau sekelompok wanita.
3. Migrasi
Migrasi adalah asek dinamis kehidupan kelompok dalam ruang yang mrupakan gerakan penduduk. Migrasi dikaitkan dengan unsur waktu bila di tempat yang barunya mentap minimal 6 bulan atau satu tahun. Sedangkan bagi mereka yang berpindah tempat tinggal kurang dari batas waktu tersebut maka mereka melakukan mobilitas sirkuler. Migrasi ini merupakan akibt dari keadaan alam dan keadaan sosial, ekonomi, budaya setempat yang kurang menguntungkan seperti :
- Persediaan sumber alam yang terbatas
- Lingkungan sosial budaya tidak kondusif
- Lemahnya potensi ekonomi
- Lemahnya perkembangan alat masa depan
Beberapa alasan tersebut menjadi faktor yang dipertimbangkan penentuan migrasi. Di samping itu mereka juga memikirkan berbagai rintangan yang mungkin dihadapi selama proses migrasi.
Perkembangan kebudayaan

Unsur kebudayaan yang juga memberikan warna terhadap corak lain dari kebudayaan dan kepribadian bangsa Indonesia adalah kebudayaan barat. Awal masuknya kebudayaan barat ke Indonesia adalah ketika kaum kolonialisme atau Penjajah masuk ke Indonesia, terutama Belanda.
Meskipun kebudayaan barat perlahan masuk ke Indonesia, Masyarakat Indonesia tetap mempertahankan kebudayaan asli Indonesia. Yaitu dengan cara hanya mengambil unsur-unsur positif dari kebudayaan yang baru tersebut. Dengan mengedepankan budaya sehat atau positif diharapkan Indonesia dapat memperoleh nilai positif yang diambil dari budaya luar yang masuk.
  

Minggu, 14 Oktober 2012

Ilmu Sosial Dasar Sebagai MKDU


Ilmu Sosial Dasar Sebagai MKDU

Penertian ilmu sosial dasar
Apa ilmu sosial dasar itu? Ilmu sosial dasar atau yang sering disebut ISD adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang masalah-masalah kehidupan sosial didalamnya, khususnya masalah-masalah kehidupan sosial pada masyarakat Indonesia yang mencangkup fakta, konsep, dan teori yang berasal dari berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti Geografi Sosial, Sosiologi, Antropologi Sosial, Ilmu Politik, Ekonomi, Psikologi Sosial dan Sejarah.

Tujuan Ilmu sosial dasar
Dijaman jaman arus modernisasi dan perkembangan tehknologi, mempelajari ilmu sosial dasar sangatlah diperlukan guna mencegah dampak-dampak negatif yang ditimbulkan, karena tujuan ilmu sosial dasar ialah memberi wawasan dan membentuk kepribadian seseorang agar dapat memahami lingkungan sosial masyarakat disekitarnya dan peka terhadap situasi dan kondisi permasalahan sosial yang sedang terjadi dimasyarakat.

Tiga kelompolk ilmu pengetahuan
Ilmu sosial dasar adalah sebuah ilmu pengetahuan, tapi apa sebenarnya ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan adalah suatu kerangka pengetahuan yang tersusun serta teruji kebenaranya, dan diperoleh melalui suatu penelitian ilmiah. Sementara pengetahuan adalah kesan yang timbul dalam pikiran manusia sebagai hasil dari penggunaan pancaindra. Ilmu pengetahuan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

1.         Ilmu-ilmu Alamiah (natural scince). Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 % benar dan 100 % salah.

2.         Ilmu-ilmu sosial (social scince) . ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 % benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.

3.         Ilmu-ilmu budaya (the humanities) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.

ISD (Ilmu sosial dasar) dan IPS (Ilmu pengetahuan sosial)

Perbedaan ISD dan IPS
1.         Istilah  ISD dipakai pada tingkat perguruan tinggi, sedangkan istilah IPS digunakan pada tingat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah atas.

2.          ISD diarahkan kepada pembentukan sikap, sedangkan IPS lebih kepada pengetahuan dan keterampilan.

Persamaan ISD dan IPS
Bahan dan materi yang dipelajari mencangkup ilmu pengetahuan sosial seperti Geografi Sosial, Sosiologi, Antropologi Sosial, Ilmu Politik, Ekonomi, Psikologi Sosial dan Sejarah.

Golongan bahan pelajaran ISD
1.         Kenyataan-kenyatan sosial yanga ada dalam masyarakat, yang secara bersama-sama merupakan masalah sosial.
2.         Konsep-konsep sosial atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam ilmu sosial dasar.
3.         Masalah-masalah sosial yang timbul dari masyarakat seperti strata sosial, kesenjangan sosial, konflik sosial, dan Dll.